Cinta memang selamanya orang takkan bisa mendivinisikannya dengan sempurna
Dia tidak bisa diukur dalamnya, tinggi juga kadarnya...
Datangnyapun kita tak tahu dari mana......
Cinta seperti halnya kita, terlahir lalu tumbuh
lambat laun akhirnya subur tanpa sepengatahuan siempunya
Dia bisa nikmat, karena bumbu-bumbunya
Kasih sayang, perhatian, kesetiaan adalah setetes dari pelezatnya
tapi cintapun bisa membakar, meracuni dan membunuh orang yang dihinggapinya.......
Dearest behold.........The distances have gone
Iam here.....here......and here..
Beyond all bolders and encumbranses
Iam the secret you can never hide
Iam the gesture you can never forget
why are you suprised at these vibrations....?
Because Iam the sound of your heart
Listen, if you can to the rhythms of your heart..
I and only Iam now on your thoughts
Iam in all your questions and your answers
I occupy all your dreams.....
Iam in the radiance of your sight
you can see me wherever your vision goes.........
I couldn't tell you then, but Iam really sorry
so now I came to beg you for forgiveness
You and I are stupid, because of my pride
Iam destroying my self with the cigarattes and her
because you still love me
I don't remember from when it was
that I started to keep thinking about you
The thoughts would appear about twice
They kept expending and I felt a bit surprised
I kept thinking to my self that it was nothing
but it was awkward when I talked to you
Is it love...? if you are thinking the same thing
then is it a start for us...? my heart kepps loving you
it's screaming for the whole world to hear
why is it that I hear it now....?
I've found love now that I've found you
I'm sorry for these words that are too late
I'll wait for you without a sense of honor...
Penerbit : Dâr-u as-Syurûq; General Organization of the Alexandria Library
Tebal buku : 641 halaman
Resensator : Ahmad Fawzi
Sebuah kebanggaan intelektual yang menyenangkan, jika kita bisa menuangkan ide dan pemikiran kita dalam sebuah buku. Adalah sebuah ironi, jika kita hanya mengumpat tanpa memberikan karya riil yang menggelegak, karena karya merupakan barometer yang menandai keberhasilan seseorang dalam meniti eksistensinya.
Layaknya tokoh-tokoh Barat kontemporer yang berhasil menciptakan karya-karya besar, baik diimplementasikan dalam bentuk buku maupun karya lainnya, dalam Islam juga muncul beberapa tokoh berpengaruh dan tercerahkan, semisal; Ali Abdu al-Râziq dengan kitabnya “al-Islâm wa Ushûlu al-Hukmi”, Rifa’at Râfi’ at-Tahtawi dengan “al-A’mâlul kâmilah”nya, Abdur Rahman Badawi dengan “Madzâhibu al-Islamiyin”nya, Qâsim Amin dengan “ Tahriru al-Mar’ah”. Atau beberapa tokoh Islam yang pernah studi di Barat, semisal; Anwar Abdul Malik dengan bukunya “Anthologie de la pensee pilitique arabe contemporaine” dan Dr. Fahmi Jad’an bukunya akan saya resensi pada edisi ini.
Jad’an lahir di Palestina pada tahun 1940, beliau adalah salah satu doktor sastra di Universitas Sorbonn, Paris. Kemudian menjadi pengajar filsafat dan pemikiran Arab Islam di berbagai Universitas, antara lain Saudi Arabia dan di Universitas Kuwait. Fahmi Jad’an menjadi orang yang paling disegani di Sorbonn maupun universitas-universitas lain yang tersebar di Paris. Di sana beliau sempat mendapatkan tanda mata berupa mendali di bidang akademiknya. Begitupun dalam bidang budaya, sastra dan seni, beliau memperoleh penghargaan yang cukup memuaskan. Bahkan sempat mendapat bintang penghargaan dari Sultan bin Ali al-Uways (Putra Mahkota Saudi Arabia) atas jasa-jasanya dalam bidang pendidikan. Dengan usaha dan kegigihannya, beliau menguasai 3 bahasa, yaitu; bahasa Perancis, Inggris dan Arab.
Mengkaji buah pemikiran beliau, tidak kalah menariknya dengan tokoh-tokoh di atas. Dalam sebuah buku yang bertajuk ”Ususu at-Taqaddum ‘inda Mufakkirî al-Islâm fî al-Âlami al-‘Arabî al-Hadist”, Jad’an berhasil memetakan pemikiran Islam poskolonialisme dengan apik. Kesuksesan beliau bukan disebabkan oleh faktor keturunan atau bahkan gelar akademis yang diraihnya, melainkan oleh kemauan, keberanian dan tekad yang kuat, sebab gelar akademis dan faktor genetis tidak akan berpengaruh banyak tanpa kemauan dan tekad. Buku yang dikarang oleh Fahmi Jad’an ini dilengkapi dengan biografi beberapa ulama terkemuka. Diantaranya; Jamaluddin al-Afghani, Syakib Arsalan, Muhammad Taufik al-Bakri, Hasan al-Banna, Qâsim Amin, Thantowi Jauharî dan lain-lain. Biografi tersebut jelas menjadi komplemen terhadap buku di atas sebagai bentuk penghormatan beliau terhadap mereka.
Karya Fahmi Jad’an tidak hanya sebatas pada satu buku, melainkan beberapa buku. Diantaranya; al-Wahyu wa al-Ilhâm fi al-Islâm (Perancis), Paris,1967, as-Syurûtul Ijtimâ’iyyah as-Tsaqâfiyyah Li al-Falsafati al-Islâmiyyah (Perancis), Paris, 1973, Manzilatu al-Malâikat-i fi al-Ilâhiyyat-i al-Kawniyyah al-Islâmiyah (Perancis), Paris, 1975. Buku dengan judul “ Ususu at-Taqaddum ‘Inda Mufakkirî al-Islâm fi al-‘Ălami al-Ărabi al-Hadist” adalah buku yang memiliki daya tarik terhadap para pembacanya, hingga diterbitkan tiga kali, dua diantaranya diterbitkan di Beirut pada tahun 1979 dan di Amman, Yordania pada tahun 1988.
Buku setebal 641 halaman ini memberikan inspirasi tersendiri kepada kita, ia mampu melahirkan semangat baru dalam menatap hari esok yang lebih cerah. Sederhananya, buku ini menjadi guide yang siap mengawal kita ke arah pembaharuan yang dinamis. Dengan bahasanya yang khas, lugas, padat dan berisi, penulis telah berhasil menghimpun rahasia-rahasia sukses untuk mengetuk bahkan mendobrak pemikiran Islam yang sekian abad stagnan dan kolaps.
Karenanya, apapun cita-cita kita, buku ini sangat tepat untuk kita baca. Kesuksesan penulis sebagai ulama terkenal dan penulis banyak buku best seller di negerinya ini membuat buku sederhana ini semakin menarik dan sangat disayangkan untuk dilewatkan, karena buku ini merupakan ide-ide progresif dari sang penulis.
Buku karangan cendikiawan muslim ini berisi pembahasan yang konfrehensif dan cermat sekali mengenai pemikiran Islam klasik. Ia terbagi dalam 6 pasal, yaitu Pertama, spirit progresifitas yang dibawa para ulama Islam klasik. Pemikiran Islam klasik menjadi kegelisahan tersendiri bagi Fahmi Jad’an, kegelisahan inilah yang mencoba untuk didobrak dan dianalisa ulang sebagai persembahan tulus penulis terhadap cita-cita Islam yang maju, egaliter dan progresif.
Kedua, esensi dan tarikh (sejarah). Menurut beliau, seharusnya zaman bisa menghancur-leburkan sebuah pemikiran seseorang. Dan semua itu tidak ditemukan dalam sejarah Islam. Beliau dengan tegas mengatakan, “Sesungguhnya kaum muslimin bukanlah kaum muslimin.” Sebuah kalimat yang singkat namun mempunyai makna luas dan membetot. Dengan kalimat di atas, beliau ingin mengatakan, bahwa kita tidak akan menjadi seorang muslim sejati, selama kita jauh dari esensi Islam.
Ketiga, memasuki masa kontemporer. Pada bagian ketiga ini Fahmi Jad’an mengatakan, bahwa masa kontemporer pun akan terasa sulit untuk merubah pemikiran Islam ke arah yang lebih progresif, selama para cendekiawan hanya berkutat pada ilmu-ilmu yang diwariskan secara turun-temurun tanpa menyelidiki lebih jauh nilai relevansinya dengan dunia di mana kita hidup saat ini. Pada bagian ini Jad’an mengutip salah satu ulama pada era Napoleon Bonaparte, Hasan al-‘Atthar yang mengatakan, “Sudah seharusnya negara kita mengubah keadaan dan memperbaharui ilmu-ilmu pengetahuan yang tidak terdapat di dalamnya.”
Menurut Ibnu Khaldun, sebagaimana dikutip Jad’an, andaikan Khilafah Islamiyah ditegakkan, maka tentunya akan berbanding terbalik (inkompatibel) dari kenyataan yang ada.
Keempat, tauhid (aqîdah) menjadi inspirasi terhadap pemikiran kaum muslimin. Hadirnya perselisihan teologis dalam tubuh Islam, seperti; Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, Syi’ah dan Khawarij menjadi awal timbulnya perselisihan politik dalam Islam. Sebagian pemikir Islam kontemporer sepakat untuk menjadikan ilmu kalam sebagai ilmu tersendiri yang menjadi bagian dari ilmu tauhid, sementara sebuah teori akan menjadi sebuah ilmu jika ia membawa spirit pembebasan. Asumsi ini dikuatkan oleh Muhammad Iqbal yang mengatakan, bahwa ilmu kalam memberikan kontribusi dan pencerahan terhadap pemikiran Islam.
Kelima, gerbang untuk membenahi diri. Pada bagian ini Jad’an menjelaskan, bahwa kemajuan dan dan kehancuran suatu bangsa, sangat ditentukan oleh aksi nyata dalam usaha, kita tidak bisa mengatakan dengan berapologi, bahwa bumi ini akan diwarisi oleh mereka yang beriman. Karena, apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, bergantung pada kaidah-kaidah kausalitas yang logis.
Keenam, nilai, tauhid atau ilmu kalam memang telah merubah pemikiran umat Islam yang kaku dan jumud, namun di samping itu mereka harus tetap mempertahankan nilai-nilai individual dan menjaga pluralitas dalam bermasyarakat. Yang kemudian diringkas menjadi tiga bagian, yaitu: nilai peradaban, nilai tata krama (sopan santun) dan nilai sosial-pilitik. Sedangkan al-Islam wa al-Mustaqbal (Islam dan masa depan) menjadi penutup dari pembahasan buku ini.
Di bagian akhir buku ini juga dilengkapi sumber-sumber atau marâji’ yang diambil dari beberapa buku berbahasa Arab dan non-Arab yang sangat terkenal validitasnya. Adapun yang berbahasa Arab, yaitu; Sir Muhammad Iqbal (Tajdîdu at-Tafkîri ad-Dinî fî al-Islâm), Abdurrahman Badawi (Madzâhibu al-Islâmiyîn), Thohir al- Jazairy (al-Jawâhiru al-Kalâmiyyah fî ‘Aqâ’idi al-Islâmiyyah). Sedangkan yang berbahasa non-Arab, diataranya; Malcoml Kerr (Islamic Reform: The polotical and legal in theories of Muhammad Abduh and Rhacid Rida, University of California Press,1966), J. Schacht (Revolution moderne du droit mosulman en Egypte, in. melanges maspero, iii, Cairo, 1935-1940, pp, 323-334), F. Jadaane (L’influence du stoicesme sue la pensee musulmane, imprimerie Dar al-masreq, Beyrouth, 1968) dan lain sebagainya.
Setelah membaca buku ini, ucapkanlah selamat tinggal pada keputusasaan, ketidakpercayaan diri, kegelisahan, kesedihan dan pesimisme. Sambutlah kepercayaan diri, optimisme, keceriaan dan kebahagiaan. Islam sesuai dengan istilah dan syari’atnya adalah melindungi keamaanan dan keselamatan hidup manusia. Dengan tujuan itulah kedamaian dan keadilan bisa tercapai. Tanpa bisa mewujudkan kedamaian dan keadilan, Islam sesungguhnya telah kehilangan tujuannya sendiri. Memahami Islam secara benar dan utuh berarti membuat hidup menjadi lebih damai, produktif, indah dan mudah. Bukan sebaliknya.
Artinya, engkau harus mengenali bakat atau potensi yang diberikan oleh Allah kepadamu. Lalu manfaatkanlah sesuai dengan kodratnya masing-masing; baik dalam bentuk ilmu, amal ataupun pekerjaan. Karena, betapapun setiap orang tahu tempat minumnya, setiap arah ada yang menujunya, dan manusia di bumi ini bermacam-macam jenisnya.
Orang yang berakal akan berfikir akan berhasil menguasai bidang yang digelutinya dengan tekun dan istiqamah. Setiap orang bisa karena terbiasa. Barang siapa memperhatikan kehidupan para sahabat Rasulullah, niscaya akan mendapati bahwa setiap dari mereka memiliki keunggulan di bidangnya masing-masing. Abu Bakar menjadikan setiap Ghanimah satu bagian.Akan tetapi, dalam menjalankan roda kekholifaan dan kepemimpinan, ia menjalankan dengan adil, zuhud, ikhlas dan jujur.
Jika engkau ingin menjadi pakar di bidang tertentu, baik dalam bidang keilmuan, pekerjaan ataupun keterampilan, selamilah dirimu dahulu, larutlah di dalamnya, terbakarlah dalam kecintaan padanya. Sebab, setiap manusia yang merindukan sesuatu pasti akan berusaha keras meraihnya sendiri sebagaimana dikatakan dalam syair berikut ini:
Lelaki sejati adalah orang yang tidak butuh kepada orang lain Kemenangan terburuk adalah kemenangan orang bodoh yang mengukurnya dengan keuntungan hasil dagangnya Kalau tidak ada kesulitan, semua manusia pasti bahagia Kemuliaan itu dicari ,keberanian itu butuh pengorbanan Barang siapa hina akan selalu dihina Tidaklah menyakitkan luka itu bagi orang mati Kalau saja tidak karena nyala api wangi dupa itu tidak akan tercium selamanya Engkau ingin mencapai kemuliaan dengan mudah tentu saja engkau harus merasakan sengatan lebah Maka bersegeralah sebelum engkau tutup usiamu! dan ingatlah bahwa tidak ada kata untuk istirahat siang dan malam Jangan katakan:anak muda masih panjang jalannya Renungkanlah, berapa anak muda yang telah kau kubur
Aku, Ahmad Fauzi adalah anak ke-2 dari 3 bersaudara yang berasal dari keluarga kurang mampu. Aku sangat bahagia bisa mempunyai keluarga yang dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang.
Aku termasuk orang yang beruntung bisa menuntut ilmu di bumi para nabi, dan mudah-mudahan aku bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. prinsipku satu " Hidup mulya dan mati syahid"