Judul               : Ususu al-Taqaddum  ‘Inda Mufakkirî al-Islâm Fî al-‘Ălami al-Arabî al-Hadîst
Pengarang        : Dr. Fahmi Jad’an
Penerbit           : Dâr-u as-Syurûq; General Organization of the Alexandria Library
Tebal buku       : 641 halaman
Resensator        : Ahmad Fawzi

Sebuah kebanggaan intelektual yang menyenangkan, jika kita bisa menuangkan ide dan pemikiran kita dalam sebuah buku. Adalah sebuah ironi, jika kita hanya mengumpat tanpa memberikan karya riil yang menggelegak, karena karya merupakan barometer yang menandai keberhasilan seseorang dalam meniti eksistensinya.

Layaknya tokoh-tokoh Barat kontemporer yang berhasil menciptakan karya-karya besar, baik diimplementasikan dalam bentuk buku maupun karya lainnya, dalam Islam juga muncul beberapa tokoh berpengaruh dan tercerahkan, semisal; Ali Abdu al-Râziq dengan kitabnya “al-Islâm wa Ushûlu  al-Hukmi”, Rifa’at Râfi’ at-Tahtawi dengan “al-A’mâlul kâmilah”nya, Abdur Rahman Badawi dengan “Madzâhibu al-Islamiyin”nya, Qâsim Amin dengan “ Tahriru al-Mar’ah”. Atau beberapa tokoh Islam yang pernah studi di Barat, semisal;  Anwar Abdul Malik dengan bukunya “Anthologie de la pensee pilitique arabe contemporaine” dan Dr. Fahmi Jad’an bukunya akan saya resensi pada edisi ini.
     
Jad’an lahir di Palestina pada tahun 1940, beliau adalah salah satu doktor sastra di Universitas Sorbonn, Paris. Kemudian menjadi pengajar filsafat dan pemikiran Arab Islam di berbagai Universitas, antara lain Saudi Arabia dan di Universitas Kuwait. Fahmi Jad’an menjadi orang yang paling disegani di Sorbonn maupun universitas-universitas lain yang tersebar di Paris. Di sana beliau sempat mendapatkan tanda mata berupa mendali di bidang akademiknya. Begitupun dalam bidang budaya, sastra dan seni, beliau memperoleh penghargaan yang cukup memuaskan. Bahkan sempat mendapat bintang penghargaan dari Sultan bin Ali al-Uways (Putra Mahkota Saudi Arabia) atas jasa-jasanya dalam bidang pendidikan. Dengan usaha dan kegigihannya, beliau menguasai 3 bahasa, yaitu; bahasa Perancis, Inggris dan Arab.
     
Mengkaji buah pemikiran beliau, tidak kalah menariknya dengan tokoh-tokoh di atas. Dalam sebuah buku yang bertajuk ”Ususu at-Taqaddum ‘inda Mufakkirî al-Islâm fî al-Âlami al-‘Arabî al-Hadist”, Jad’an berhasil memetakan pemikiran Islam poskolonialisme dengan apik. Kesuksesan beliau bukan disebabkan oleh faktor keturunan atau bahkan gelar akademis yang diraihnya, melainkan oleh kemauan, keberanian dan tekad yang kuat, sebab gelar akademis dan faktor genetis tidak akan berpengaruh banyak tanpa kemauan dan tekad. Buku yang dikarang oleh  Fahmi Jad’an ini dilengkapi dengan biografi beberapa ulama terkemuka. Diantaranya; Jamaluddin al-Afghani, Syakib Arsalan, Muhammad Taufik al-Bakri, Hasan al-Banna, Qâsim Amin, Thantowi  Jauharî dan lain-lain. Biografi tersebut jelas menjadi komplemen terhadap buku di atas sebagai bentuk penghormatan beliau terhadap mereka.

Karya Fahmi Jad’an tidak hanya sebatas pada satu buku, melainkan beberapa buku. Diantaranya; al-Wahyu wa al-Ilhâm fi al-Islâm (Perancis), Paris,1967, as-Syurûtul Ijtimâ’iyyah as-Tsaqâfiyyah Li al-Falsafati al-Islâmiyyah (Perancis), Paris, 1973, Manzilatu al-Malâikat-i fi  al-Ilâhiyyat-i al-Kawniyyah al-Islâmiyah (Perancis), Paris, 1975. Buku dengan judul “ Ususu at-Taqaddum ‘Inda Mufakkirî al-Islâm fi  al-‘Ălami al-Ărabi al-Hadist” adalah buku yang memiliki daya tarik terhadap para pembacanya, hingga diterbitkan tiga kali, dua diantaranya diterbitkan di Beirut pada tahun 1979 dan di Amman, Yordania pada tahun 1988.                                                                         

Buku setebal 641 halaman ini memberikan inspirasi tersendiri kepada kita, ia mampu melahirkan semangat baru dalam menatap hari esok yang lebih cerah. Sederhananya, buku ini menjadi guide yang siap mengawal kita ke arah pembaharuan yang dinamis. Dengan bahasanya yang khas, lugas, padat dan berisi, penulis telah berhasil menghimpun rahasia-rahasia sukses untuk  mengetuk bahkan mendobrak pemikiran Islam yang sekian abad stagnan dan kolaps.

Karenanya, apapun cita-cita kita, buku ini sangat tepat untuk kita baca. Kesuksesan penulis sebagai ulama terkenal dan penulis banyak buku best seller di negerinya ini membuat buku sederhana ini semakin menarik dan sangat disayangkan untuk dilewatkan, karena buku ini merupakan ide-ide progresif dari sang penulis.
     
Buku karangan cendikiawan muslim ini berisi pembahasan yang konfrehensif dan cermat sekali mengenai pemikiran Islam klasik. Ia terbagi dalam 6 pasal, yaitu Pertama, spirit progresifitas yang dibawa para ulama Islam klasik. Pemikiran Islam klasik menjadi kegelisahan tersendiri bagi Fahmi Jad’an, kegelisahan inilah yang mencoba untuk didobrak dan dianalisa ulang sebagai persembahan tulus penulis terhadap cita-cita Islam yang maju, egaliter dan progresif.

Kedua, esensi dan  tarikh (sejarah). Menurut beliau, seharusnya zaman bisa menghancur-leburkan  sebuah pemikiran seseorang. Dan semua itu tidak ditemukan dalam sejarah Islam. Beliau dengan tegas mengatakan, “Sesungguhnya  kaum muslimin bukanlah kaum muslimin.” Sebuah kalimat yang singkat namun mempunyai makna luas dan membetot. Dengan kalimat di atas,  beliau ingin mengatakan, bahwa kita tidak akan menjadi seorang muslim sejati, selama kita  jauh dari esensi Islam.

Ketiga, memasuki masa kontemporer. Pada bagian ketiga ini Fahmi Jad’an mengatakan, bahwa masa kontemporer pun akan terasa sulit untuk merubah pemikiran Islam ke arah yang lebih progresif, selama para cendekiawan hanya berkutat pada ilmu-ilmu yang diwariskan secara turun-temurun tanpa menyelidiki lebih jauh nilai relevansinya dengan dunia di mana kita hidup saat ini. Pada bagian ini Jad’an mengutip salah satu ulama pada era Napoleon Bonaparte, Hasan al-‘Atthar yang mengatakan, “Sudah seharusnya negara kita mengubah keadaan dan memperbaharui ilmu-ilmu pengetahuan yang tidak terdapat di dalamnya.”

Menurut Ibnu Khaldun, sebagaimana dikutip Jad’an, andaikan Khilafah Islamiyah ditegakkan, maka tentunya akan berbanding terbalik (inkompatibel) dari kenyataan yang ada.

Keempat, tauhid (aqîdah) menjadi inspirasi terhadap pemikiran kaum muslimin. Hadirnya perselisihan teologis dalam tubuh Islam, seperti; Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, Syi’ah dan Khawarij menjadi awal timbulnya perselisihan politik dalam Islam. Sebagian pemikir Islam kontemporer sepakat untuk menjadikan ilmu kalam sebagai ilmu tersendiri yang menjadi bagian dari ilmu tauhid, sementara sebuah teori akan menjadi sebuah ilmu jika ia membawa spirit pembebasan. Asumsi ini dikuatkan oleh Muhammad Iqbal yang mengatakan, bahwa ilmu kalam memberikan kontribusi dan pencerahan terhadap pemikiran Islam.
Kelima, gerbang untuk membenahi diri. Pada bagian ini Jad’an menjelaskan, bahwa kemajuan dan dan kehancuran suatu bangsa, sangat ditentukan oleh aksi nyata dalam usaha, kita tidak bisa mengatakan dengan berapologi, bahwa bumi ini akan diwarisi oleh mereka yang beriman. Karena, apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, bergantung pada kaidah-kaidah kausalitas yang logis.

Keenam, nilai, tauhid atau ilmu kalam memang telah merubah pemikiran umat Islam yang kaku dan jumud, namun di samping itu mereka harus tetap mempertahankan nilai-nilai individual dan menjaga pluralitas dalam bermasyarakat. Yang kemudian diringkas menjadi tiga bagian, yaitu: nilai peradaban, nilai tata krama (sopan santun) dan nilai sosial-pilitik. Sedangkan al-Islam wa al-Mustaqbal (Islam dan masa depan) menjadi penutup dari pembahasan buku ini.
   
Di bagian akhir buku ini juga dilengkapi sumber-sumber atau marâji’ yang diambil dari beberapa buku berbahasa Arab dan non-Arab yang sangat terkenal validitasnya. Adapun yang berbahasa Arab, yaitu; Sir Muhammad Iqbal (Tajdîdu at-Tafkîri ad-Dinî fî al-Islâm), Abdurrahman Badawi (Madzâhibu al-Islâmiyîn), Thohir al- Jazairy (al-Jawâhiru al-Kalâmiyyah fî ‘Aqâ’idi al-Islâmiyyah). Sedangkan yang berbahasa non-Arab, diataranya; Malcoml Kerr (Islamic Reform: The polotical and legal in theories of Muhammad Abduh and Rhacid Rida, University of California Press,1966), J. Schacht (Revolution moderne du droit mosulman en Egypte, in. melanges maspero, iii,  Cairo, 1935-1940, pp, 323-334), F. Jadaane (L’influence du stoicesme sue la pensee musulmane, imprimerie Dar al-masreq, Beyrouth, 1968) dan lain sebagainya.
   
Setelah membaca buku ini, ucapkanlah selamat tinggal pada keputusasaan, ketidakpercayaan diri, kegelisahan, kesedihan dan pesimisme. Sambutlah kepercayaan diri, optimisme, keceriaan dan kebahagiaan. Islam sesuai dengan istilah dan syari’atnya adalah melindungi keamaanan dan keselamatan hidup manusia. Dengan tujuan itulah kedamaian dan keadilan bisa tercapai. Tanpa bisa mewujudkan kedamaian dan keadilan, Islam sesungguhnya telah kehilangan tujuannya sendiri. Memahami Islam secara benar dan utuh berarti membuat hidup menjadi lebih damai, produktif, indah dan mudah. Bukan sebaliknya.